3 Pahlawan
1 Pulau
By: Nyoman
Arya S
“Bum!” suatu ledakan terdengar
dari kejauhan. Putu yang berumur 3 tahun yang tinggal di bali tepatnya di Denpasr.
Ia menangis karena suara ledakan tersebut. Bapaknya adalah seorang tentara yang
melindungi negara dengan senjata dan bertumpang darah. Ibunya adalah seorang
ibu rumah tangga. Sudah 14 berlalu, Putu sudah berumur 17 tahun yang membantu
ibunya di rumah. Ia diberhentikan sekolah karena tidak mempunyai biaya dan
tidak aman pergi sendiri tanpa orang tua.
Ia
terkurung di rumah seperti terkurung di dalam penjara selama hidup. Ini
dilakukan karena agar anak-anak aman. Sudah 14 tahun ia belum mendapat kabar
dari ayahnya ia bertanya “Ibu… ayah kemana?” tanya putu, “Tidak tahu nak ibu
tidak tahu tentang ayah mu. Ayah mu se
Ayahnya
adalah seorang jenderal yang memimpin pasukan abri di Bali. Ayahnya sudah menyerang
2 markas besar. Sekarang ia sedang menyerang Markas ketiga. “Hari inilah
penjajahan di Bali akan berakhir. Ini adalah markas terakhir yang kita akan serang
semua harus siap” Tegasnya sebelum ia pergi meninggalkan markasnya. Dalam malam
hari mereka langsung menuju ke markas, dalam waktu singkat mereka sudah
membunuh 3 pasukan belanda
“Kapten
sudah memberi tanda… ayo kita maju” bisik salah satu prajurit. Meraka
menghedap-hendap di semak-semak memasuki daerah markas belanda.“Bagai mana
kapten, apakah aman?” tanya salah satu prajurit. “ Kita tidk bisa masuk ke
dalam karena masih banyak tentara yang menjaga di luar. “Atau kita diam-diam mengambil
seragam dan memakai seragam tersebut dan menatuhkan bom di markas tersebut”
saran salah satu prajurit.
Sementara di rumah ibu dan outu sedang memasak sinkong rebus
dan teh. Saat sedang menikmati singkong dan teh mereka mendengar suara ketukan pintu.
Mereka Takut dengan ketukan tersebut karena mereka mengira itu adalah Belanda
yang ingin menyerang. “Putu!” sahut seseorang yang mengetuk pintu. “Tunggu…
Bayu?” tanyanya dengan keyakinan. “Iya ini aku cepat bukakan!” tegasnya.
Saat pintu dibukakan Bayu menceritakan semua yang terjadi
kepada keluarganya. Bayu adalah sahabat ku sejak “Tk” ia adalah teman yang
selalu setia. Ibu menyiapkan minum untuknya. “Bayu kau tinggal di sini saja
kita akan menjagamu sepertikeluarga sendiri” saran ibu. “Baik tanre eh ibu…
tapi saya tidur dimana?” tanyanya. “Kau tidur saja di kamar Putu” Kata ibu,
“baiklah” Jawab Bayu.
Malam itu ayahnya menyamar menjadi salah satu tentara
belanda, tetapi salah satu tentara belanda mencuriganya. Saat ada tanda adanya
musuh berbunyi ia hanya berjalan biasa. Saat berjalan santai salah satu tentara
yang sudah mencurigainya mengeluarkan senjata kecil atau pistol dan mengarahkan
kepadanya. “Dar!” suara ledakan itu terdengar sampai rumah Putu. Ibu putu yang sedang
ingin mengambil air untuk ia minum jatuh dan pecah. “Kenapa bu?” Tanya bayu dan
putu, “ ibu tidak tau nak mungkin ayahmu…” Jawab ibu dengan air mata yang terus
mengalir.
Ternyata firasat ibu benar, ayah Putu dan bayu di bunuh oleh
peluru yang di tembakan kepadanya saat sirine lawan menyala. “Waarom heb je hem te doden is onze vriend! kenapa kau bunuh
dia ini teman kita!” Tanya seorang tentara prajurit. “Is het waar? benarkah?” balas tentara yang membunuh ayah Putu. “je probeert om de kap te openen” Coba
kalian buka topi yang dipakainya. “hij
heeft gelijk” Dia benar jawab perajurit yang membuka topi kapten. Tetapi
kapten sudah menaruh bom tersebut di ruang gantinya di maskas tersebut.
Saat gejadian tersebut salah satu tentara dari Bali melihat
kejadian tersebut. Saat itu teman baik kapten menjadi kapten tentara Bali. Pasukan
dari Bali turut berduka cita atas meninggalnya kapten yang lejendaris. Mereka berjalan
ke markas yang tidak jauh dari rumah Putu. Salah satu tentara yang melihat trajedi
tersebut memberi tahu kepada keluarga kapten Putu.
“tok…tok…tok” suara ketukan pintu berbunyi keras. “Siapa?”
Tanya Putu, “Saya Wahyu, tentara Pasukan kapten Putu” Balasnya. “Iya, tujuan
anda kemari apa?” Tanya Putu. Ibu dan Bayu keluar untuk memastikan keadaan
baik-baik saja. “Saya membawa kabar buruk dan baik Putu” Kata wahyu, “apa itu
Wahyu?” Tanya Bayu, “Kabar baiknya adalah kita sudah merusak markas ketiga
dengan bom yang sudah kapten pasang dan sebentar lagi akan meledak, kabar
buruknya adalah kami semua tentara dan seluruh rakyat berduka cita atas
meniggalnya kapten Putu.
Setelah mendengar kabar buruk tersebut Ibu mengeluarkan air
matanya banyak. Putu dan Bayu dan mereka
mempunyai firasat kalau masih ada satu markas yang mereka belom ledakan.
“Dar!!” bunyi ledakan di malam hari membuat Putu dan Bayu semakin kesal.
Keesokan harinya Putu dan Bayu berlatih untuk mengunakan senjata dan berlatih
kecepatan, kelincahan dan kekuatan. Setelah 4 bulan, Putu, Bayu dan Wahyu.
Wahyu akan memantau setiap pergerakan Putu dan Bayu. Saat
sesampai di markas ketiga yang sudah diledakan dan berletak di kaki gunung
agung mereka mencari markas keempat. Setelah lama mencari mereka menemukan
markas keempat di sekitar kaki gunung agung ternyata firasat mereka benar,
masih ad markas keempat yang harus di ledakan. Mereka mengatur strategi untuk
mesuk kedalam.
Markas trsebut tidak di jaga ketat karena itu hanya penjara
Waa yang di tangkap oleh pasukan belanda. Perkiraan mereka salah, itu adalah gudang
dimana bom dan senjata-senjata berada. Mereka mulai memasuki Gudang tersebut
dengan hati-hati, tetapi Bayu minginjak ranting dan membangunkan penjaga yang
sedang bertugas, untung Putu sudah di belakang petugas. Putu langsung
menyelinam kedalam suatu mobil yang sedang berhenti di sana dan memasang bom.
Setelah iya selidiki ia melihat salah satu warga disana
bernama Made. Iya langsung membebaskan dari penjara tersebut dan menaruh bom. Made
dan Putu langsung, keliatan Bayu sedang menembak dengan senjata besar, “cepat
keluar!” teriaknya. Saat ingin keluar Putu melihat Ibu-ibu dengan bay yang
terperangkap di sana.Ia menyuruh Made untuk lari menuju Bayu. Setelah Made
sampai ia membantu Bayu melawan musuh yang mereka lihat.
Putu membantu Ibu tersebut tetapi ada Kapten yang memimpin
pasukan Belanda di Bali. “Dar!” satu peluru yang menembus kaki Putu, “cepat bu…
Made tolong ibu ini” teriaknya. “Dar” Suara kedua tembakanyang menembus tangan
Made. “Ayo kita pergi!” teriak Putu. ‘’Dar’’ Ledakan pada gudang dan membesar
karena adanya bom yang aktif di gudang tersebut.
Karena Putu Ditembak di kaki kirinya, ia lemah dan tidak
bisa berlari hanya jalan tapi pelan. Hari semakin Malam yang sunyi, tanpa di
sadari dari kejauhan terlihat seseorang yang masih hidup, ternyata itu Kapten
Belanda, “Dit eiland behoort tot ons“
pulau ini milik kita, “Dar” satu tembakan lagi di tujukan ke tangan kiri Putu.
Putu mengambil pistol dan peluru yang ada di dekatnya, ia mengarahkan pistol
tersebut ke Kapten Belanda, “Kembalikan negeri kita, ini adalah hak asasi kita!”
teriak Putu, “Dar” Putu menebak kapten Belanda tepat di jantung.
Putu, Bayu, Made dan Ibu yang sedang membawa anaknyapulang
dengan bendera merah putih dengan darah yang mengalir dari tangan Made. Mereka
langsung memberi kabar baik ini kepada ibu, warga dan tentara Bali. “Indonesia
Merdeka!” Teriak Putu, Bayu dan Made.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar